itsdysa


Grizella menengadah, menatap langit yang menaunginya itu kini sudah tak biru lagi. Tumpukan awan sudah semakin menebal dan bergerak semakin cepat sebab angin terus berhembus kencang, mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya. Wanita dengan rambut yang sengaja ia gerai bebas itu lalu melangkahkan kakinya dengan berat memasuki sebuah bangunan yang beberapa bulan terakhir sudah cukup sering ia kunjungi. Pintu kaca yang dilengkapi dengan sensor itu lantas terbuka dengan sendirinya, mempersilakan perempuan berkulit putih itu untuk masuk. Bau obat-obatan yang khas kini mulai menyapa indra penciumannya, menemani setiap langkah kakinya—yang masih terasa berat itu—untuk terus melangkah maju menuju lift.

Grizella kini sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai di mana kekasihnya, Nathan, akan melakukan terapi rutinnya. Gadis itu kini mencengkeram erat paper bag berisi puding buah—yang sudah ia janjikan pada Nathan semalam—untuk menyalurkan perasaan gugupnya. Bukan kali pertama gadis itu mengunjungi Nathan seperti ini, pun bukan yang kedua kalinya. Entah sudah kali keberapa, namun gadis itu belum dan mungkin tidak akan pernah terbiasa.

Ting!

Setelah sekian menit Grizella menunggu, akhirnya lift yang ia gunakan berhasil membawanya sampai hingga lantai yang dimaksud. Ketika pintu besi itu terbuka, wanita tersebut langsung melangkahkan kaki kanannya untuk keluar dan berbelok ke kiri. Grizella lalu menghitung langkahnya dalam hati—adalah cara lain miliknya untuk mengalihkan pikiran buruk yang menghampiri. Tepat saat dirinya menghitung sampai angka ke-25, kakinya berhenti. Dia kemudian menolehkan kepalanya ke kiri, mengintip dari bagian kaca yang tidak tertutupi gorden dan menemukan kekasihnya kini tengah berbaring di seberang sana sendirian. Hatinya mencelos, pertahanannya runtuh seketika, air mata yang sudah ia tahan sejak ia turun dari mobil tadi kini meluncur dengan mudahnya, pun bibirnya ia gigit pelan sebab mulai bergetar. Kekasihnya di sana seorang diri, laki-laki yang ia sayangi beberapa bulan terakhir itu sedang di sana melawan rasa sakit itu sendirian, tidak ada yang menemani—mengingat ruangan tersebut harus steril sehingga tidak seorang pun diizinkan untuk masuk.

Grizella kini menempelkan tangan kirinya pada kaca seolah dapat mengelus Nathan dari jarak yang cukup jauh itu. Nathan belum menyadari kedatangan gadis itu, laki-laki itu masih berbaring terlentang di sana dengan mata yang terpejam beserta selang infus yang masih tertanam pada punggung tangannya. Dari kejauhan Grizella dapat melihat alis Nathan yang berkerut dan dahinya mulai berkeringat. Gadis itu dapat tahu Nathan sedang menahan sakit yang luar biasa kala cairan obat itu masuk ke dalam tubuhnya.

Gadis itu lalu menghapus air matanya, tidak ingin membuat kekasihnya itu justru khawatir dengan kehadirannya di sana. Dia lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya berhasil menampilkan senyum palsu.

Tok! Tok! Tok! Tok!

Ketukan sebanyak empat kali diberikan oleh Grizella pada kaca di hadapannya—satu-satunya benda yang menghalangi dirinya dengan sang adam. Tidak mendapatkan respons dari Nathan, kini gadis itu kembali mengulang ketukan tersebut, kali ini sedikit lebih kencang. Sekitar dua detik Grizella menunggu jawaban, akhirnya Nathan menolehkan kepalanya ke kanan dan menemukan perempuan itu sedang melambaikan tangan ke arahnya disertai senyuman lebar yang tampak bahagia—meski kenyataannya harus pilu yang perempuan itu tahan di dalam hatinya.

Nathan, laki-laki itu hanya membalas lambaian tangan Grizella dengan seulas senyum sebab dirinya terlalu lemas jika harus membalas dengan lambaian tangan juga. Perempuan itu kemudian mengeluarkan sebuah sketchbook berukuran A4 dari dalam tas yang ia bawa, pun sebuah spidol hitam ia ambil dari tempat yang sama. Grizella lantas memberikan fokusnya untuk menuliskan sesuatu di sana, meninggalkan Nathan yang hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

Usai tangan gadis itu menuliskan beberapa kata di sana, dia lalu memutar buku gambar tersebut agar Nathan dapat membacanya. Begitulah satu-satunya cara mereka dapat berkomunikasi mengingat kaca di hadapannya cukup tebal dan sulit untuk menghantarkan suara.

Hai, Nath, aku udah dateng!

Pesan pertama yang Grizella tuliskan di sana berhasil membuat Nathan tersenyum semakin lebar, hatinya mulai menghangat berkat kehadiran gadisnya di sana.

Grizella kembali menuliskan beberapa kata untuk membentuk sebuah kalimat lainnya. Ia sengaja menyiapkan kalimat-kalimat singkat yang memang jawabannya hanya akan ‘Ya’ atau ‘Tidak’ sehingga Nathan dapat menjawabnya hanya dengan anggukan atau gelengan kepala, mengingat laki-laki itu tak mungkin bisa menjawabnya dengan jawaban yang panjang.

Gimana perasaannya? Sakit ya?

Nathan kembali membaca tulisan yang tertera di sana, sedangkan gadisnya menunggu jawaban tersebut dengan hati yang mulai bergetar, tak kuat menahan tangisnya. Nathan kemudian menatap gadis itu lekat, sedangkan Grizella hanya membalas dengan senyum hangat yang masih setia menghiasi wajahnya.

Nathan lalu mengangguk.

Grizella kini meremat buku di tangannya sedikit lebih kencang untuk menyalurkan tangisnya yang tertahan. Jawaban dari Nathan tadi membuat kakinya lemas seketika. Nathannya sakit. Nathannya Ijel sedang menahan sakit. Jujur lelaki itu kerap bilang bahwa kemoterapi yang ia jalani itu tak begitu menyakitkan seperti yang ia bayangkan, setidaknya itu dulu, namun untuk yang pertama kalinya Grizella mendapat jawaban yang berbeda hari ini. Nathan mengangguk, itu menandakan dirinya benar-benar sedang kesakitan.

Perempuan itu masih terus mengulas senyum palsu di wajahnya dan kembali menuliskan kalimat-kalimat di buku tersebut. Kali ini disertai dengan gambar-gambar lucu untuk menghibur kekasihnya yang bibirnya mulai tampak pucat, pun manik laki-laki itu tak lagi menampakkan sinar bahagia, namun terlihat sangat lesu melawan kelelahan.

Nggak apa-apa, tahan ya? Ijel tau Nathan yang paling kuat!

Nathan kembali tersenyum dibuatnya, ia lantas mengangguk. Setidaknya kedatangan Grizella di sini membuatnya tidak lagi merasa sendiri, mengingat bundanya kini sedang berbicara dengan dokternya entah di mana.

Sesuai janji! Aku bawa puding buah buat kamu, nanti habis kemo jangan lupa dimakan ya?

Remaja laki-laki itu mengangguk lagi sebagai jawaban.

Ya udah sekarang kamu merem aja kalo pusing, nanti pudingnya aku titip tante rumi, ya. Semangat, Nath.. Ijel sayang Nathan.

Kalimat tersebut menjadi penutup akan pembicaraan kedua anak manusia itu hari ini sebab Nathan kembali memutar kepalanya menghadap langit-langit, lantas memejamkan kedua matanya. Grizella lalu menutup kembali buku gambar miliknya, ia masih berdiri di sana, masih setia menatap laki-lakinya lekat. Satu titik air mata kini berhasil lolos dari pelupuk matanya, membiarkan butiran-butiran bening lainnya ikut meluncur bebas dari sana. Gadis itu lalu menutup mulutnya sendiri agar isakannya tidak mengganggu orang-orang yang berlalu-lalang di sana. Dia tak kuat lagi, rasanya ingin masuk ke dalam ruangan itu dan memeluk Nathan saat ini juga. Ingin rasanya memberi tahu laki-laki itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ingin ke sana, ingin merengkuh kekasihnya ke dalam dekapan hangatnya.


Ingatan Grizella kini ditarik paksa untuk memutar memori hari itu. Kejadian tahun lalu yang tidak akan pernah ia lupakan. Hari pertama dia tahu bahwa Nathan kesayangannya sedang tidak baik-baik saja.

“Leukemia, Jel. Aku sakit.” Suara Nathan hari itu masih dapat terdengar jelas di telinga Grizella hari ini. Ia ingat jelas pertama kali kalimat itu meluncur melewati telinganya, saat itu juga maniknya tidak berkedip, menatap lurus netra Nathan yang juga terlihat sama takutnya.

Leukemia, katanya. Nama penyakit yang Nathan katakan pada gadis itu tepat setelah dua bulan mereka resmi berkencan. Penyakit yang merenggut keceriaan yang laki-laki itu punya. Semuanya berubah sejak itu, Nathan yang sering merasa ketakutan Grizella akan meninggalkannya, dan Grizella pun yang merasa takut Nathan akan meninggalkannya dalam artian lain. Semuanya memang berubah, kecuali satu. Perasaan mereka tidak akan pernah berubah, bahkan hingga detik ini.

“Kapan pun kamu mau udahan, bilang ya, Jel? Bilang ke aku. Aku nggak akan marah.” Satu kalimat yang membuat hati Grizella hari itu terasa sangat sakit, ingin marah pada semesta, namun tak berdaya. Dia lalu hanya mampu menjawab dengan sebuah gelengan kepala.


Hari itu memang berat bagi keduanya. Dan masih terasa berat hingga hari ini. Menghadapi kenyataan bahwa orang yang ia sayangi mengidap penyakit seserius itu memang membuat Grizella terpukul, namun perasaannya terhadap Nathan tidak pernah berubah sedikit pun. masih dengan debaran yang sama ketika pertama kali gadis itu bertemu dengan Nathan, masih dengan rona merah muda yang sama ketika pertama kali ia mengulur tangan untuk mengajak Nathan berkenalan, dan masih dengan rasa kagum yang sama seperti awal wanita itu memutuskan untuk menjatuhkan hatinya pada Nathan.

Grizella yang kini sedang mendudukkan dirinya di salah satu kursi besi di depan ruangan kemoterapi Nathan kembali menyuarakan tangisnya. Ia menunduk, menutup kedua matanya dengan tangannya sendiri untuk mengeringkan air matanya.

“Nggak akan aku bilang mau udahan sama kamu, Nath. Nggak akan, kecuali Tuhan yang memaksa,” ujarnya pelan dengan suaranya yang bergetar.


Pagi itu udara masih terasa cukup dingin, pun harum embun masih dapat tercium jelas dari dedaunan yang basah itu. Angin dingin yang berhembus menyambut seorang gadis yang baru saja menapakkan kakinya turun dari mobil, membuat perempuan itu langsung mengeratkan cardigan-nya untuk melawan hawa dingin yang tercipta. Ya, Grizella baru saja turun dari gocar yang ia pesan pagi ini untuk pergi ke rumah kekasihnya. Wanita dengan tote bag putih yang ia sampirkan pada pundak kirinya itu juga tampak sedang membawa sebuah paper bag cokelat di tangan kanannya, ia kemudian melirik sekilas jam tangan silver yang melingkar manis di pergelangan tangannya itu, jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, masih cukup pikirnya untuk menemani Nathan sarapan lebih dulu sebelum mereka pergi ke kampus nanti.

Dengan senyum cerahnya, Grizella mulai melangkahkan kaki mendekati rumah yang cukup besar itu, sebuah rumah dengan cat oranye hangat dan pagar besi besar yang mengelilinginya. Dari depan, dua mobil yang tengah terparkir di garasinya dapat terlihat, salah satunya adalah mobil Nathan yang biasa ia gunakan dan mobil lainnya terparkir rapi tepat di sampingnya.

Gadis itu kemudian menekan tombol bel rumah yang terletak tepat di sisi kanan pagar rumah tersebut, menunggu seseorang membukakan pagar itu untuk membiarkan ia masuk. Grizella berjinjit, mencoba mengedarkan pandang hingga pintu kayu dari rumah itu tiba-tiba saja dibuka oleh pemiliknya, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan gaun tidur yang nampak anggun untuk tubuhnya yang terbilang cukup ramping untuk ukuran wanita berumur empat puluhan. Wanita paruh baya yang merupakan ibunda dari Nathan itu lantas tersenyum dan dengan cepat menghampiri Grizella yang masih berdiri di sisi luar pagar rumah.

“Pagi, Tante Rumi,” sapa Grizella ramah usai ibu dari kekasihnya itu membuka pagar besi untuknya. Tante Rumi, begitulah Grizella biasa memanggil wanita berambut pendek itu.

Perempuan bernama Rumi kemudian membalas dengan senyum hangat, “Selamat pagi, Grizella sayang, apa kabar, Nak? Kok nggak bilang mau ke sini?” ujarnya seraya memberikan Grizella pelukan hangat.

Grizella, masih dengan senyum yang terukir di wajah mungilnya itu lantas menjawab, “Hehe iya, Tante... tadi malam Nathan bilang mau makan spaghetti bikinan Ijel, jadinya Ijel dateng pagi-pagi deh.”

“Oalah anak itu banyak permintaan, ya udah yuk masuk, dingin di luar.” Rumi lalu merangkul lembut pundak Grizella dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.


“Naik aja ke kamar Nathan, Nak, anaknya masih tidur kayaknya,” ujar Rumi tadi setelah Grizella meletakkan paper bag cokelat miliknya di atas meja makan di dapur. Jadilah gadis itu kini berdiri tepat di depan pintu bercat putih dengan sebuah papan gantung kecil bertuliskan ‘Kamar Nathan: kalo mau masuk ketuk pintu dulu atau nggak dibukain’. Grizella lalu dibuat tersenyum oleh tulisan yang jelas-jelas ditulis oleh kekasihnya itu, lucu, batinnya.

Perempuan itu lantas mengetuk pelan pintunya sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban dari balik sana, mungkin Nathan masih terlelap dan tidak mendengarnya, pikirnya. Ia kemudian dengan hati-hati menggerakkan gagang pintu itu turun, hendak membukanya. Dengan dorongan yang amat pelan—takut jika suara derit pintu yang dihasilkan akan mengejutkan Nathan—gadis itu kini berhasil melongokkan kepalanya dan mengintip ke dalam. Lampu tidur di ruangan tersebut masih menyala, gordennya juga masih tertutup rapat, pun pemilik ruangan persegi itu masih terlelap menghadap tembok, memunggungi Grizella yang kini sudah melangkah masuk.

“Nath? Maaf ya aku masuk nggak izin, tapi aku udah ketuk pintu kok,” ujar Grizella seraya mendekatkan diri pada kekasihnya yang wajahnya masih damai terlelap.

Grizella lantas mendudukkan dirinya di tepi ranjang tepat di samping kepala Nathan. Gadis itu lalu tersenyum lembut, tangannya ia daratkan pada puncak kepala laki-laki itu untuk kemudian ia belai pelan surainya yang tampak berantakan. Rasa sayang yang memenuhi dadanya kini semakin membuat Grizella berdebar hebat. Gadis itu memejamkan mata, lantas menarik napas panjang, mencoba membiarkan oksigen lebih banyak masuk ke rongga dadanya, ikut membawa harum parfum Nathan yang mendominasi ruangan tersebut. Wangi manis yang selalu Grizella sukai jika berada dekat dengan Nathan.

“Nath, bangun yuk? Spaghetti-nya udah ada di bawah lhoo,” ujar Grizella lagi, ia masih mencoba membangunkan kekasihnya meski yang dibangunkan itu masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin bangun dari tidur lelapnya.

Mencoba memikirkan cara lain untuk membangunkan Nathan, Grizella kini memajukan sedikit wajahnya pada telinga kanan Nathan, ia lantas sedikit berbisik, “Nath, Nath, ada UFO mau liat nggakk? Cepetan keburu kaburr.”

Masih sama. Belum kunjung ada respons dari laki-laki itu. Grizella bergerak mundur, menjauhi wajahnya dari Nathan, namun tangannya masih tak berhenti memainkan rambut kekasihnya.

Gadis itu tersenyum lembut, “Capek banget ya, Nath?”

Di menit selanjutnya, setelah kalimat tanya itu keluar dari bibir Grizella, alis Nathan mulai bergerak, tampak berkerut, laki-laki itu lalu memutar tubuhnya dan meregangkannya, belum menyadari kehadiran Grizella yang sekarang sudah bangkit dari posisi duduknya tadi. Nathan mengusap wajahnya, mencoba untuk meraih kesadaran sepenuhnya, hingga ketika kedua maniknya terbuka ia menemukan Grizella yang sedang tersenyum dengan manisnya.

Good morning, Nathan,” sapa gadis itu ceria.

Seulas senyum kini hadir pada wajah Nathan, “Morning, Ijel.”

Grizella lantas berjalan mendekati jendela kamar Nathan yang masih tertutup rapat, kemudian dibuka olehnya gorden tersebut lebar-lebar, membiarkan semakin banyak cahaya matahari pagi yang hangat masuk ke dalam kamar Nathan. Ia kemudian membuka jendela tersebut, sehingga angin sejuk dapat ikut masuk.

“Kok udah di sini aja sih, Jel? Aku masih buluk gini baru bangun tidur, kamunya udah cantik dari ujung rambut sampe ujung kaki,” ujar Nathan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara, meregangkan punggungnya yang terasa kaku.

Grizella terkekeh pelan sebelum tangannya bergerak mematikan lampu tidur milik Nathan yang terletak di meja kecil tepat di samping ranjang, “Ya kamu di-chat nggak bales, jadi ya udah aku langsung ke sini aja.”

“Spaghetti,” ucap Nathan pelan.

“Iya di bawah spaghetti-nya, yuk turun sekarang?”

“Peluk dulu, boleh?”

Grizella sempat diam, ia lalu tersenyum lembut sebelum akhirnya berjalan mendekati Nathan dan merengkuh tubuh yang lebih besar itu pada dekapan hangatnya. Tangan kanan gadis itu lalu bergerak naik turun mengelus punggung laki-lakinya, membuat sang empu kini memejamkan mata karena rasa nyaman yang diberikan oleh Grizella.

Setelah dirasa cukup, pelukan keduanya lantas terlepas, “Udah yuk buruan mandi terus makan, kita ada kelas pagi,” sambung Grizella.


Katanya, kantin MIPA adalah tempat paling nyaman di Arcadia University. Tempat itu selalu penuh pengunjung baik dari mahasiswa FMIPA itu sendiri atau pun mahasiswa dari fakultas lain. Kantin MIPA juga punya menu unggulan yang setiap hari akan sold out dalam jangka waktu yang cukup singkat, yaitu ayam geprek dan mie ayam khas Oma Nena. Selain menunya yang lezat, daya tarik lain dari tempat tersebut adalah karena letaknya yang strategis—dekat dari mini market, stasiun, ATM, dan perpustakaan. Ditambah dengan tersedianya free wi-fi serta kehadiran pepohonan rindang yang menaungi lingkungan tersebut ikut memberi kontribusi untuk menjadikan lokasi itu semakin diminati banyak orang.

Grizella dan Nathan kini sudah melangkahkan kaki mereka ke dalam kantin yang sudah dipenuhi anak manusia. Manik gelap milik Nathan kemudian langsung dapat mengenali ketiga temannya yang duduk tak jauh dari warung Oma Nena, bagaimana tidak, tawa Hadyan sudah menguar mendominasi seisi ruangan, mungkin sedang menertawakan Rhayyan lagi seperti biasanya. Nathan—laki-laki yang tangannya masih setia menggenggam erat tangan gadisnya itu lantas melanjutkan langkah kakinya mendekati ketiga sahabatnya itu.

“Oitt Ijell, sini Jel duduk di samping gue,” ujar Hadyan sembari menepuk-nepuk sisi kosong pada bangku panjang yang ia duduki setelah mendapati Nathan dan Grizella yang kini sudah berdiri tepat di samping meja.

Grizella hanya tertawa melihat kelakuan sahabat kekasihnya itu, Hadyan selalu begitu, ucapannya sering kali tidak disaring lebih dulu dan tak jarang menimbulkan keributan, terbukti dari pandangan Nathan yang kini sudah menatap tajam ke arah Hadyan.

“Ini cewek gue kalo lo lupa,” ujar Nathan singkat, kemudian ia lebih memilih untuk mendudukkan dirinya di samping Juan—yang duduk berhadapan dengan Hadyan dan Rhayyan—disusul Grizella yang ikut duduk tepat di sisi kiri Nathan.

Hadyan berdecak sebal, “Galak banget pawangnya.” Remaja itu lalu mengubah target utamanya menjadi Rhayyan yang kini masih sibuk mengetik di laptopnya, entah mungkin ia sedang mengerjakan laporan praktikum seperti biasa.

“Rhay udah dong jangan belajar muluuu, mau nasi goreng nggak?” ujar Hadyan sembari mendekatkan wajahnya pada Rhayyan, sedangkan temannya itu tetap acuh dan terus mengetik pada laptopnya.

“Rhay, ayo yuk beli nasi gorengg...” Tidak menyerah, Hadyan kini mulai menunjukkan wajah ‘sok’ menggemaskannya sembari menggelayuti lengan Rhayyan yang membuat ketiga remaja lainnya bergidik ngeri.

“AH BACOT BANGET HADYAN REZA! Beli sendiri kan bisa? Gue lagi ngerjain laprak!” Omelan Rhayyan kini keluar, sedangkan Hadyan sudah tertawa puas. Mungkin satu hari tanpa mengganggu Rhayyan akan terasa sangat hampa bagi Hadyan.

“Udah napa Yan, jangan digangguin mulu Rhayyan-nya, kasian itu lu nggak liat kepalanya udah ngebul?” ujar Nathan yang memang selalu menengahi mereka ketika keduanya tengah ribut, sedangkan Grizella yang melihatnya kembali melemparkan tawa.

“Cih nggak asik.” Hadyan lalu menyambar sebotol air mineral di depannya dan menenggaknya hingga tersisa setengah. “Zel, temen lu yang cantik jelita paras dan hatinya itu lagi ngapain? Suruh ke sini dongg,” ujar Hadyan setelah menutup kembali botol air mineral miliknya.

“Bahasa lo dangdut banget, Yan,” ujar Juan yang mulutnya masih penuh oleh makanan.

Grizella, wanita yang ditanya oleh Hadyan itu lantas membalas, “Maksud lo tuh Kei?”

“Yoi, siapa lagi emangnya?” Hadyan kini sudah mengambil satu pangsit milik Juan untuk kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Mungkin di antara pertemanan ini Juan-lah yang akan selalu bersabar akan tingkah Hadyan yang terlalu banyak polanya, entah karena Juan memang baik hati atau sebenarnya ia hanya tidak peduli selama itu baginya tidak berlebihan.

“Ya kan siapa tau ada yang lain.. kalo Kei.. tuh orangnya ada di belakang lo,” ujar Grizella santai, sedangkan Hadyan langsung membelalakkan matanya dan perlahan memutar tubuhnya ke belakang. Netranya tentu saja langsung menemukan Keisha yang sedang berdiri tepat di belakangnya dengan raut wajah datar menatap Hadyan.

Hadyan sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuka suara, “Eyy Keishaa, sini Kei duduk di samping gue,” ujarnya.

Tidak menuruti ucapan Hadyan, kini Keisha justru mendudukkan dirinya di samping Rhayyan, menyebabkan Rhayyan kini diapit oleh dua orang—Hadyan dan gadis itu.

Hadyan cemberut, “Kok malah di situ sih duduknya, Keiii?” ujarnya.

“Aura mana?” Keisha yang pura-pura tidak mendengar rengekan dari Hadyan kini melontarkan pertanyaan pada Grizella.

“Gue kira tadi sama lo?” Bukannya menjawab dengan jawaban yang pasti, Grizella justru membalas dengan pertanyaan juga.

Keisha mengernyit, “Nggak sih? Tadi terakhir liat dia lagi ngobrol sama Bu Tari di depan ruang B, terus nggak tahu ke mana..”

“Sebentar ya, coba gue telepon.” Namun, tepat ketika Grizella hendak mengambil ponselnya dari dalam tas, sosok perempuan yang tengah dicari oleh warga itu tiba-tiba saja muncul, “Oh! Itu dia, Aura! Sinii!” teriak Grizella sembari melambaikan tangannya, bermaksud agar sahabatnya itu menyadari kehadirannya.

Dengan napas terengah-engah, Aura kini sudah duduk di samping Keisha, “Aduh sorry gue lama,” ujarnya.

“Abis dari mana lo?” tanya Keisha sambil menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel pada temannya itu, “Nih, minum.”

Thanks..” Aura lalu membuka botol air tersebut dan meminum isinya, ia masih mengatur napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Keisha, “Tadi gue abis ketemu temen gue di FT, terus pas mau ke kantin malah nyasar,” ujarnya.

Tak heran, pun orang-orang terdekatnya sudah terbiasa dengan Aura si Tukang Nyasar itu. Hampir setiap hari, bahkan di kampusnya sendiri pun gadis itu tak jarang salah jalan dan berujung tersasar.

“Kebiasaan, makanya coba lo tuh kalo jalan jangan sibuk mikir ini itu dulu, fokus liat sekitar,” omel Keisha, sedang gadis yang diajak bicara kini hanya menampilkan jajaran gigi putihnya, “Hehe iya Keiiii, ngertii.”

Nathan tiba-tiba saja berdiri dari duduknya, “Nah, karena udah ngumpul semua, sekarang mau pesen apa? Gue deh yang pesenin.”

“Bayarin juga nggak?” tanya Hadyan polos.

“Yan, lu nggak malu apa ada cewek lu terus lu berlagak sok miskin?” Rhayyan membalas, laptopnya sudah ia matikan sejak beberapa menit lalu, mengingat sudah mulai banyak orang di meja makan itu dan kondisinya sudah tidak kondusif lagi untuk mengerjakan tugas.

“Oh iya maaf, Kei.”

“Ngapain minta maaf ke gue?” Keisha melirik tajam ke arah Hadyan.

“Ya kan lo cewek gue.”

“OGAHHH!”

“Eits jangan buru-buru jawabnya, Kei. Gue bakal tunggu dengan sabar sampe jawabannya ‘Yes’,” ujar Hadyan lagi dengan senyum penuh keyakinan.

Keisha bangkit dari duduknya, “Lo pilih mau gue pukul pake tas atau laptopnya Rhayyan?”

“Kenapa laptop gue kena juga anjirr?” Rhayyan tak terima karena semua ilmunya ada di dalam sana, ia lantas memeluk benda elektronik tersebut, berjaga-jaga jika wanita di sampingnya itu benar-benar berniat melemparnya ke wajah Hadyan.

“BURUANNN MAU MAKAN APAAN ASTAGA!” Nathan yang sedari tadi menunggu jawaban sekarang sudah marah besar.

Begitulah jika ketujuhnya dipertemukan. Ada tujuh rupa manusia dengan tingkah pola dan kepribadian yang berbeda, namun jika salah satu saja tidak hadir, maka yang lain juga akan merasa kurang dan hampa. Ketujuhnya dipertemukan oleh semesta dengan cara yang berbeda, pun tidak dalam waktu yang bersamaan. Kembali teringat kala awal mereka saling mengenal adalah karena Grizella dan Nathan resmi berkencan tahun lalu. Grizella yang memperkenalkan teman-temannya serta Nathan juga melakukan hal serupa. Sehingga entah bagaimana ketujuhnya akhirnya lebih sering bertemu dan berujung saling mengakrabkan diri hingga nyaman.

Anggap seperti tujuh warna pelangi, masing-masing mereka punya latar belakang dan ciri khasnya masing-masing, tapi ketika ketujuhnya berada pada satu bingkai yang sama, maka warna-warni itu akan semakin terlihat elok dipandang mata. Jika satu saja warna dari ketujuhnya pudar, rasanya seolah menjadi burung yang terbang dengan sebelah sayapnya yang patah, tak lagi utuh, rapuh, dan mudah jatuh.

Tulisan ini akan menceritakan tentang bagaimana Hanessa dan Johan akhirnya menemukan kebahagiaan mereka, cerita tentang bagaimana anak berhati bersih bernama Arsakha menemukan rumah yang layak, dan tentang adik kecilnya Aksara yang sangat ia sayangi.

Hanessa—hari ini ia menangis lagi seperti hari-hari sebelumnya. Pernikahan Nessa dan Johan mungkin sudah berlangsung cukup lama, namun mereka tak juga kunjung diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki buah hati.

“Kenapa nangis lagi?” Johan yang baru saja pulang bekerja kini duduk di sofa ruang tengah, tangannya ia daratkan pada puncak kepala istri kesayangannya, membelai pelan surai gelapnya.

Nessa kemudian menarik napas, mencoba menenangkan rasa sesak di dada, “H-hari ini aku ke rumah sakit,” ujarnya di sela isakan kecil.

“Iya, aku tahu, kamu udah bilang tadi.”

Nessa mengangguk, “Aku ke sana buat jenguk temanku yang melahirkan.”

Johan yang seolah sudah tahu arah pembicaraan istrinya kemudian hanya menorehkan senyum lembut.

“Bayinya putih, pipinya merah,” lanjut Nessa seraya tersenyum sendu.

Johan, pria itu belum berhenti mengusap lembut kepala wanitanya, mencoba mendengarkan semua cerita dari perempuan itu.

“Aku.... aku minta maaf belum bisa kasih.... anak..... buat kamu,” tutur wanita itu pelan seraya menunduk, tidak berani menatap netra sang adam.

Suaminya kini langsung memeluknya, merengkuhnya erat dalam pelukan hangat, dan diusap pelan punggung sang hawa hingga rasa tenang menghampiri.

“Aku punya usul,” ujar Johan, sempat ragu.

Nessa mengangkat kepalanya, belum berniat untuk melepaskan diri dari pelukan sang suami, “Apa?”

“Kalau kita coba ke panti asuhan gimana?”

Wanita itu hanya menatap Johan tak berkedip, banyak perasaan berkecamuk di hatinya sekarang. Melihat istrinya kini tidak kunjung merespon, Johan kembali bersuara.

“Kita coba aja, siapa tahu dengan kita merawat anak dari sana nantinya Tuhan kasih kepercayaan buat kita?” lanjutnya.

Nessa sempat ragu, ia kemudian melepaskan pelukan suaminya.

“Kalau kamu nggak mau ga apa-apa sayang, aku nggak maksa, ini cuma usul aja.” Johan memastikan pendapatnya itu tidak justru menambah beban pikiran istrinya.

“Ayo.” Suara akhirnya keluar pelan dari bibir Nessa.

“Hm?”

“Ayo kita coba,” ujar Nessa seraya memasang raut penuh harap.


Sore itu angin bergerak lembut menyapu dedaunan yang jatuh dari pohon, menerpa pelan surai Hanessa yang ia biarkan tergerai. Wanita itu menarik napas penuh keraguan, kemudian menatap lurus ke arah rumah yang tampak tua berada cukup jauh di depannya. Johan keluar dari mobil usai memarkirkannya di tepi jalan, dengan tangan kanannya yang masih membawa file coklat berisi beberapa dokumen yang dibutuhkan, ia lalu berjalan mendekat pada istrinya yang masih berdiri terpaku.

Tangan dingin wanita itu kemudian digenggam erat oleh sang adam, “Yuk? Kita coba ke sana. Kamu ga pa-pa?” tanya Johan memastikan. Hanessa hanya mengangguk lalu melangkahkan kakinya mengikuti langkah suaminya.

Suara anak-anak mulai terdengar kala keduanya semakin dekat pada rumah itu. Sebuah rumah yang tampak tua namun cukup besar dan hangat untuk menampung puluhan anak di dalamnya, sebuah rumah yang dikelilingi taman luas dan pepohonan di sekitarnya, membuat tempat itu semakin menyejukkan hati. Nessa kini mulai tenang, mulai mengabaikan keraguannya untuk akhirnya mengambil keputusan ini. Langkahnya tidak seberat sebelumnya, ditambah Johan senantiasa di sisinya, menemaninya di setiap langkah yang ia ambil.

Mereka kini sudah memasuki rumah itu. Johan langsung mencoba bicara dengan salah satu wanita yang bekerja di sana, sedangkan Hanessa kini melangkahkan kakinya lebih jauh memasuki rumah tersebut, tentunya setelah mendapat izin. Terlihat banyak coretan warna-warni yang dapat ditebak merupakan hasil karya dari tangan-tangan mungil yang hidup di sana. Hati Hanessa menghangat, sejak dulu ia sangat menyukai anak-anak. Netranya kini jatuh pada pigura besar yang menampilkan seluruh penghuni rumah ramah itu. Ia cukup lama mengamati, hingga indra pendengarnya menangkap suara bayi yang tengah menangis. Hanessa kemudian menoleh dan dengan perasaan ragu bercampur penasaran, ia pun mengikuti suara tersebut.

Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah kamar kecil dengan ranjang bayi yang terletak tepat di tengah ruangan. Angin dapat masuk dengan mudah dari jendela yang berada di sisi kanan ruangan tersebut, menerpa pelan gorden dan membuatnya mengayun pelan, pun cahaya senja perlahan ikut hadir di dalamnya, menjadikan suasana ruangan itu kian hangat. Hanessa kini melangkahkan kakinya semakin dalam ke kamar tersebut, hendak menghampiri malaikat kecil yang tangisnya belum kunjung berhenti. Kala ia berada tepat di samping ranjang kecil itu, hatinya tiba-tiba saja tersentuh. Maniknya menangkap sosok indah malaikat kecil di depannya. Bayi kecil dengan kulit seputih salju, pipi dengan semburat merah muda yang lucu, mata sipitnya yang sangat cantik menenangkan hati, pun tahi lalat menambah kesan manis pada ujung mata kanan miliknya. Benaknya kini bertanya, manusia mana tega meninggalkan malaikat seindah ini?

Hanessa, ia kemudian menjulurkan tangannya lembut, hendak mengangkat tubuh kecil yang tampak rapuh itu. Bayi itu lalu dibawa ke dalam dekapan hangatnya, dipeluk erat oleh sang hawa sembari ia tepuk pelan punggung anak manusia itu.

“Hai? Kenapa menangis?” tutur Nessa lembut.

Seperti sihir, bayi kecil itu kini menghentikan tangisannya, manik gelap milik bayi itu sekarang ditujukan pada wanita yang menggendong tubuh kecilnya. Bayi itu diam, matanya kini membulat menatap Hanessa polos dengan air mata yang masih tersisa di sana. Hanessa sudah tak sanggup lagi menahan gemas, senyum kini hadir pada wajah cantik wanita itu, kemudian ia cium lembut kening bayi itu, membuat sang pemilik memejamkan matanya dan mengerutkan alisnya lucu.

“Namanya Sakha.” Tiba-tiba saja seorang wanita muncul dari balik pintu, membuat Hanessa sontak menoleh.

“Namanya Sakha, artinya kemurahan hati,” lanjut wanita itu sembari berjalan mendekat pada Hanessa.

“Halo Sakha,” sapa Hanessa, masih menatap kagum setiap lekuk wajah malaikat kecil yang berada di dekapannya.

Tiba-tiba saja Nessa merasa sangat penasaran bagaimana Sakha berakhir di tempat ini, dengan hati-hati ia akhirnya bertanya pada wanita yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya, “Sakha kenapa bisa ada di rumah ini?”

Wanita yang ditanya kini tersenyum, “Malam itu, hujan turun dengan deras. Saya lalu berlari cepat dengan payung keluar untuk mengangkat selimut yang sejak sore masih dijemur di halaman.” Wanita itu menjeda, kemudian tangannya bergerak membelai pelan kepala bayi yang tidak rewel berada di pelukan Nessa.

“Tepat saat saya sedang mengambil selimut, telinga saya mendengar suara tangis dari sisi semak di samping saya berdiri, di sana saya temukan Sakha berada di dalam kardus beserta sehelai selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Saat itu hanya sebuah payung merah kecil yang melindunginya dari tetesan hujan. Hari itu saya menangis,” lanjut wanita itu panjang lebar.

Hanessa kini menitikkan air matanya, hatinya penuh rasa iba dan amarah.

“Lalu saya membawanya masuk bersama saya dan sejak itulah Sakha menjadi bagian dari keluarga kami, menunggu seseorang yang mungkin akan menjemputnya untuk dibawa pulang pada keluarga yang baik-baik,” tutur wanita itu lagi.

Hanessa kini semakin teguh hati untuk membawa malaikat kecil itu pulang bersamanya, ia menatap sendu wajah bayi yang kini sudah tampak lebih ceria dibanding sebelumnya.

“Kamu mau pulang sama saya?” tanya Hanessa lembut pada bayi laki-laki itu seolah anak itu dapat mengerti tuturnya.

Hanessa dan Johan dengan teguh hati langsung menyiapkan proses-proses yang dibutuhkan untuk membawa Sakha pulang ke rumah mereka. Hari di mana Hanessa membuat keputusan yang besar dalam hidupnya, keputusan yang membawa lebih banyak bahagia datang padanya. Butuh cukup lama waktu yang digunakan untuk menyambut hari di mana ia akhirnya dapat membawa pulang Sakha kecil yang ia dekap hangat dalam pelukannya. Namanya Sakha, anak manusia dengan kemurahan hati yang luas.


Sakha tumbuh dengan baik melalui kehangatan yang kedua orang tuanya berikan untuknya. Ia hidup dan belajar dengan baik, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kuat, juga tentunya baik hati. Hanessa dan Johan tidak ingin menutupi apapun dari anak baik itu, mereka tetap ingin Sakha tahu dari mana ia berasal, oleh karena itu di setiap ulang tahunnya, Johan dan Hanessa tidak pernah bolos untuk membawa Sakha bermain satu hari penuh di rumah asuh yang menjadi rumah pertamanya kala kecil. Sakha tidak sedih, sungguh ia sangat bersyukur ia dijemput oleh keluarga yang tidak kalah baiknya, ia bahagia, ia sangat menyayangi kedua orang tua dan seluruh keluarga serta teman-teman asuhnya. Tapi, ada satu kehadiran makhluk yang tak kalah hebat ia sayangi, yaitu Aksara, adik kecil kesayangannya yang datang tak lama setelah ia hidup dengan keluarga barunya itu.

“Abang, Aksa boyeh (boleh) pinjem mainan Abang yang ini ndak?” Aksa yang saat itu berumur 5 tahun mencoba meminta izin dari abangnya untuk meminjam mainan robot yang menurut anak itu tampak sangat keren.

Sakha yang merasa dipanggil kemudian menoleh dan tersenyum, “Boleh, Aksa ambil aja kalau mau,” jawabnya lembut.

“Boyeh (boleh)?”

“Boleh, Aksa, buat Aksa aja juga ga pa-pa.” Sakha kini mengelus pelan rambut adik laki-lakinya.

“Yay! Makasih Abang!” Anak yang lebih muda kemudian berlari meninggalkan kakaknya yang sedang menggambar di buku gambar miliknya.

Apapun yang Aksara minta, Sakha selalu berusaha memenuhinya. Ia sangat menyayangi adiknya karena hanya adiknya teman bermainnya di rumah kala ayahnya sibuk bekerja dan ibunya sibuk membersihkan rumah. Bagi Sakha kehadiran Aksara merupakan hadiah kedua dari Tuhan, ia bersyukur, ia bahagia.

(Aksa POV)

Pertama kali gue ngobrol sama Shanine adalah waktu dia duduk di samping gue pas kelas 1 SMP. Itu hari pertama gue masuk ke sekolah baru yang sebenarnya sih gue nggak berharap-berharap banget bisa masuk sana, tapi karena Ibu minta gue buat masuk ke sekolah yang sama kayak Bang Sakha, akhirnya gue cuma menurut aja waktu didaftarin, toh sekolahnya not bad kok, masih termasuk sekolah yang nyaman dan guru-gurunya juga baik, jadi gue nggak ada alasan nolak permintaan Ibu. Tapi siapa yang sangka dengan gue masuk ke sekolah itu gue bisa nemuin sahabat terbaik yang pernah gue punya di hidup gue. Cewek baik yang disia-siakan orang tuanya.

Oke maaf sedikit melantur pembicaraannya, jadi memang benar pertama kali gue ngobrol sama Shanine ya waktu dia ngajak gue ngobrol nanyain nama belakang gue, tapi itu bukan yang pertama kali gue lihat dia. Sebelumnya gue sempat ketemu sama Shanine di lobby sekolah, gadis itu tampak kebingungan mau ke mana. Tadinya gue mau bantu, tapi kayaknya dia sudah mendapat jawaban dan hanya duduk di salah satu kursi. Waktu itu gue juga nggak begitu peduli sama kehadiran dia, sampai akhirnya gue dapat tugas jadi ketua kelas dengan dia sebagai wakilnya, alhasil ya gue mau nggak mau harus sering terlibat sama dia. Tapi ya anaknya seru kok, jadi gue nggak masalah juga deket sama dia. Satu hal yang bikin gue jadi kasih perhatian lebih ke dia adalah dia manggil gue bukan Aksa, tapi Juni.


“Jun!” Panggil Shanine lantang dari depan kelas siang itu.

Gue yang saat itu lagi fokus ngerjain tugas bahasa akhirnya kaget karena dipanggil dengan cukup keras. Gue menoleh ke arah pintu dan menemukan gadis itu sudah melongokkan kepalanya ke dalam kelas sembari tangannya sibuk memegang tumpukan kertas. Gue cuma menatap heran.

“Jun sini!” Dia kembali memanggil. Akhirnya gue memutuskan untuk menghentikan kegiatan gue ngerjain tugas dan mulai berjalan ke arahnya.

“Kenapa?” tanya gue ketika sudah berdiri tepat di depannya.

“Kata Bu Siska ketua kelas suruh ke audit sekarang,” jawabnya dengan mata yang berbinar. Waktu itu gue masih nggak tahu kenapa dia selalu memasang wajah yang berseri-seri setiap dia ngomong sama gue.

“Kenapa nggak masuk aja nyamperin gue?”

“Eh iya sorry, soalnya gue lagi nunggu Ara bawain kertas sisanya.” Shanine menjawab sembari menunjukkan tumpukkan kertas yang dipeluknya.

Gue cuma mengangguk, “Ya udah gue ke audit ya.”

“Oke dadahh!” balas gadis itu ceria disertai lambaian tangannya yang ia angkat tinggi-tinggi ke udara.

Waktu itu gue cuma anggap Shanine sebagai teman biasa. Teman duduk, teman ngobrol, teman belajar, teman mengurus kelas, pokoknya cuma teman biasa aja. Tapi tanpa sadar gue mulai terbiasa sama hadirnya dia yang tiba-tiba itu di hidup gue. Gue mulai merasa aneh kalau Shanine nggak ada di samping gue, gue mulai merasa nggak nyaman dan kepikiran kalau Shanine absen, gue selalu cari dia kalau saat istirahat gue nggak nemuin dia di kelas. Dan di situ gue sadar kalo gue nyaman sama dia, gue nyaman ada di dekat dia, gue juga akhirnya sadar kalau gue berhasil nemu temen yang bener-bener cocok sama gue, temen yang gue yakin bakal selalu ada dan bantu gue di situasi apapun.


Oh iya, gue jadi ingat, pada suatu hari, pagi itu gue sempat ribut sedikit sama Ibu perkara gue nggak boleh bawa motor kayak Bang Sakha. Waktu itu gue iri, kenapa Ibu lebih yakin sama Bang Sakha dibanding sama gue? Padahal juga kita kan cuma beda satu tahun aja.

“Kamu bareng Bang Sakha aja ya?” “Kenapa Aksa ngga boleh bawa motor juga?”

Saat itu gue yakin banget Ibu udah kehilangan cara buat ngelarang gue biar nggak bawa motor, tapi beliau tetap mencoba tersenyum lembut.

“Nanti Aksa boleh bawa motor sendiri, tapi nggak sekarang, ya? Ini juga masih minggu awal masuk sekolah baru kan? Buat sekarang sama Bang Sakha dulu aja ya, hm?” Ibu masih mencoba membujuk gue buat nurut.

Tidak ingin membuat gue dan Bang Sakha semakin terlambat ke sekolah, akhirnya gue memutuskan untuk menurut. Gue menganggukkan kepala, lalu menyalami tangan Ibu, dan beranjak meninggalkan ruang makan, hendak menyusul Bang Sakha yang sedari tadi sudah menunggu di teras rumah.

Sepanjang jalan gue cuma diam aja, paling-paling menjawab seadanya kalau Bang Sakha ngajak ngobrol, tapi selebihnya gue nggak banyak bicara. Begitu pula waktu motor Bang Sakha akhirnya sampai di halaman parkir sekolah, gue langsung turun dan sekadar bilang “Duluan ya Bang, makasih udah dianter,” ke Bang Sakha yang cuma dibalas senyuman seperti biasa.

Gue langsung duduk di kursi gue begitu sampai di kelas. Pagi itu hanya baru ada 3 orang di kelas gue, Shanine belum datang. Perasaan gue yang masih kesal nggak jelas itu masih bisa gue rasain, jadinya gue memutuskan untuk merebahkan kepala gue di meja, hanya beralaskan jaket gue biar kepala gue nggak begitu sakit karena meja yang keras, lalu tangan gue bergerak mengusap layar ponsel, hendak menyalakan lagu secara acak dengan suara yang gue atur cukup pelan agar tak mengganggu. Mungkin sekitar 15 menit kemudian, tepat ketika handphone gue memutar lagu ke-2 nya, Shanine datang. Tanpa melihat ke arahnya gue bisa tahu dia menarik kursi, meletakkan sweater pink-nya, kemudian duduk dan mendekatkan wajahnya ke arah gue. Iya gue bisa tahu se-detail itu karena itu seperti sudah kebiasaannya. Tebakan gue juga benar, di detik berikutnya dia lalu membuka suara, “Pagi Jun!” menyapa gue dengan ceria tepat di samping telinga kanan gue. Gue yang waktu itu enggan membuka percakapan panjang-panjang akhirnya hanya membalas singkat, “Ya.” Tapi gadis itu selalu punya caranya sendiri yang bisa bikin gue nggak konsisten sama rasa kesal gue.

“Jun, PR Jun.... Matematika, udah belom?” tanyanya polos.

“Udah,” jawab gue singkat, masih menelungkupkan wajah, enggan melihatnya.

“Liat dong, boleh ngga?”

“Ambil di tas.”

Gue tahu Shanine nggak langsung buka tas gue karena gue nggak ngerasa tas gue bergerak di belakang gue, pun nggak ada suara ritsleting yang dibuka. Gue yang bingung akhirnya mengangkat wajah untuk melihat gadis itu yang kini tengah terpaku diam.

Dengan alis yang gue naikkan sebelah, gue pun bertanya, “Kenapa nggak diambil?”

Cukup lama waktu yang dibutuhkan gadis itu untuk menjawab pertanyaan sederhana dari gue, “Ya, ya masa gue buka tas lo?” jawabnya ragu.

“Emang kenapa?”

“Nggak sopan.”

Gue sedikit tertawa, “Nggak ada privasi apa-apa di dalemnya, paling cuma dompet yang lo nggak boleh liat isinya,” jawab gue akhirnya.

“Bener ya? Jangan marah ya.” Dia memastikan.

“Iyaaa.”

Tangannya langsung mengambil tas gue dan dipangku olehnya. Gue nggak tahu kenapa hari itu wajahnya berseri-seri pas ngelihat isi tas gue, padahal nggak ada yang lucu?

“Kenapa senyum-senyum?” tanya gue penasaran.

“Wangi. Tas lo wangi.”

“Oh, itu karena gue bawa parfum.”

“Ini?” tanyanya sembari mengangkat botol parfum kecil yang gue maksud.

Gue mengangguk, sedangkan dia sedang menatap takjub botol parfum itu seolah baru pertama kali mengenal benda itu. Detik berikutnya dia langsung meletakkan kembali botol parfum gue ke dalam tas dan diambil olehnya buku matematika yang menjadi alasan utama dia buka tas gue.

“Pinjem ya, izin liatt,” ujarnya kemudian meletakkan kembali tas gue ke belakang punggung gue.

Gue kembali menjatuhkan kepala gue di atas jaket gue di meja, tapi kali ini wajah gue nggak gue tutupi seperti sebelumnya, gue menolehkan kepala ke kanan, menghadap gadis itu yang tengah mengetik di ponselnya.

“Kerjain. Matematika jam pelajaran pertama,” ujar gue mencoba mengingatkan.

“Oh, iya iya.” Dia langsung meletakkan ponselnya dalam keadaan menyala di meja, kemudian mulai membuka lembar demi lembar buku tulis gue.

Entah kenapa sekarang fokus gue teralihkan ke layar ponsel miliknya. Di sana terpampang jajaran chat di mana chat gue dia pinned di paling atas. Waktu itu gue sempat bingung, anak-anak lain mungkin akan meletakkan grup kelas atau grup keluarga pada pinned chat mereka, tapi Shanine.... kenapa justru gue yang di pinned? Sepenting itu?

“Kenapa kontak gue di-pinned?” tanya gue dengan nada datar.

Gadis itu langsung menoleh cepat dan membulatkan matanya, tampak terkejut. Dengan cepat ia kemudian mengambil ponsel miliknya untuk ia matikan dan ia letakkan kembali ke dalam tasnya. Gue yang masih menunggu jawaban kini hanya menatap dia lekat.

“Pertanyaan gue belom dijawab, Nin.” Gue mencoba mengingatkan.

Dia tampak panik, “Eh, itu.... soalnya.... OH iya! Soalnya semalem gue ngechat lo mau nanya PR MTK ini, tapi lo nggak bales-bales kan, jadinya gue pinned aja, biar pas lo bales gue bisa langsung cek gitu, soalnya gue bingung sama tugasnya, hehe,” jawabnya panjang lebar.

Gue mengangguk pelan, “Sorry tadi malem gue nggak buka hape lagi, abis ngerjain tugas langsung tidur,” balas gue.

“Eh iya ga pa-pa, santai ajaa,” ujarnya sambil tersenyum canggung.

Gue sempat diam beberapa detik, “Terus kontak gue kenapa dinamain Juni?” lanjut gue.

“Ya karena gue manggil lo Juni.”

“Emang kenapa nggak Aksa?”

“Biar beda aja dari yang lain, seru kan?” jawabnya disertai dengan cengiran, sedangkan gue hanya menatap datar, tampak tak tertarik. “Ya udah iya gue rename, dalam kurung, A-K-S-A, oke udah, jadi Juni dalam kurung Aksa.” Jawaban dia sekarang bisa bikin gue lupa total sama rasa kesal yang gue pendam sejak pagi, gue berhasil tertawa sekarang kala melihat ekspresi wajahnya tampak lucu.

“Oke kalo gitu mulai sekarang gue juga panggil lo Mbul aja.” “HAH? Kenapa Mbul?” “Ya kan nama lo Shanine Rembulan Poernama?” “Ya, terus?” “Ya itu kan Rembulan? Jadinya Mbul,” jawab gue sembari tertawa.

Dia hanya menatap datar, tampak kesal.

“Gue rename kontak lo jadi Mbul oke biar adil,” balas gue kemudian meraih ponsel gue untuk me-rename nama kontaknya. “Ya udah serah lo.” Shanine kembali melanjutkan tugas-tugasnya. “Ngambek nih?” “Engga.” “Ngambek tuh.” “ENGGA IH!” Gue kemudian mendapat cubitan kecil di lengan kanan gue dari perempuan itu.


Ya, pokoknya begitu cerita awal gue bisa akrab sama Shanine dan gimana ceritanya gue bisa panggil dia Mbul dan dia bisa panggil gue Juni ya sebenarnya karena kejadian random itu tadi. Kalau diingat-ingat mungkin lucu juga ya karena gue nggak pernah peka kalau dia sudah sangat lama menyimpan perasaannya sendiri buat gue. Nggak tahu emang guenya bodoh atau nggak peka, tapi intinya sekarang Shanine sudah jadi milik gue, punya gue, rumah gue.

(Shanine POV)

Siang ini matahari menyengat hebat hingga cahayanya berhasil masuk ke dalam kamar gue melalui jendela, lalu menjatuhkan sinarnya tepat di atas meja belajar gue. Cahaya yang menyilaukan itu sekarang mulai mengganggu konsentrasi gue untuk ngerjain semua tugas-tugas matematika yang sudah cukup bikin kepala gue panas. Tidak ingin menambah alasan kepala ini makin ngebul, akhirnya gue menutup jendela di hadapan gue dengan gorden.

Gue kembali duduk, kembali menatap berlembar-lembar kertas dengan angka-angka di sana yang melihatnya saja sudah membuat gue mual. Tangan gue pun sudah mulai enggan bergerak mengerjakannya. Hembusan napas berat berhasil keluar, sekarang pikiran gue mendadak mengingat kejadian beberapa tahun silam, ketika gue pertama kali ketemu sama cowok manis yang bikin gue penasaran hari itu. Namanya Aksara.


Hari itu adalah hari pertama gue resmi jadi anak SMP. Setelah melalui masa-masa SD gue yang nggak begitu menarik, akhirnya gue bisa meninggalkan sekolah itu dan naik ke jenjang yang berikutnya. Ada rasa bangga yang gue rasain karena berhasil masuk ke SMP yang lumayan terkenal di kota gue pada masanya. Gue berjalan lurus memasuki gerbang sekolah di mana sudah banyak teman-teman baru di sana. Oh iya, alasan lain gue seneng banget berhasil masuk ke sekolah ini adalah karena seragamnya bagus! Gue selalu ingin pergi ke sekolah dengan memakai pita dan kaus kaki pendek yang waktu SD gue harus setiap hari pakai kaus kaki panjang. Ya, peraturan.

Waktu itu gue bingung mau ke mana, nggak ada orang yang bisa ditanyain. Sedari tadi gue sudah coba tanya sana sini tapi gue cuma selalu dapat balasan “Nanti dulu ya, Dek, tunggu pengumuman aja.” Kata seorang cowok berambut gelap yang gue tebak adalah panitia yang bertugas untuk kegiatan masa orientasi siswa ini karena ada pin OSIS yang menempel di dada kirinya.

Nggak lama dari gue duduk di salah satu kursi di lobby, pengumuman terdengar dari lapangan utama, “Kepada seluruh siswa-siswi baru tolong segera ke lapangan untuk upacara, terima kasih.” Ujar salah satu panitia itu dengan mikrofon di tangannya. Dengan cepat gue langsung beranjak dari posisi gue sebelumnya dan segera berjalan cepat ke arah lapangan.

Begitu gue sampai di lapangan, gue langsung memosisikan diri untuk baris di bagian belakang, sengaja, agar sinar matahari tak begitu menyengat jatuh di atas kepala gue pagi itu. Mata gue sibuk melihat-lihat orang-orang asing yang baris di dekat gue. Nggak ada yang gue kenal dan gue juga masih enggan mengajak bicara lebih dulu, hingga detik berikutnya mata gue berhasil menangkap sosok pria yang menurut gue, emm, lumayan, ganteng. Pria berambut hitam itu baris cukup jauh di depan, tapi dengan jelas masih bisa gue lihat wajahnya karena dia cukup tinggi. Warna kulitnya nggak begitu gelap juga nggak begitu cerah, pokoknya cukup. Cukup bikin gue mau jerit maksudnya.

Sepanjang upacara gue gagal fokus dan nggak dengerin pembina ngomong apa aja tadi. Fokus gue masih sibuk ngeliatin cowok itu, cowok yang dari belakang terlihat sangat menarik. Dia tidak bicara, pun tidak menoleh atau mengalihkan fokusnya pada lingkungan sekitarnya. Dia hanya menatap lurus ke arah pria paruh baya yang bicara di depan. Anak baik ya, pikir gue. Dan kalian harus tau, gue nggak tahu kebaikan apa yang gue lakuin selama hidup gue karena tiba-tiba aja gue berhasil satu kelas sama cowok yang tadi merebut fokus gue di lapangan! Tapi sedihnya gue nggak bisa duduk di samping dia karena tempat duduknya sudah ditentukan. Tapi nggak pa-pa, sekelas aja udah bagus buat gue.

Gue masih menaruh perhatian pada pria itu sejak awal masuk ke kelas. Gue menaruh kepala di atas tumpuan tangan dan melihatnya dengan senyum semringah yang mungkin aneh kalo dilihat sama orang-orang, tapi ya gimana, gue gagal menahannya. Hingga sebuah suara tiba-tiba mengejutkan gue. “Barisan dekat jendela boleh pindah ke barisan kanan ya semuanya, biar nggak panas, itu mataharinya lagi terik banget.” Kata Kak Gilang, panitia yang ditugaskan untuk jadi penanggung jawab kelas gue selama masa orientasi siswa baru berlangsung.

Karena gue duduk di barisan dekat jendela, jadi gue sontak menoleh ke barisan kanan yang tadi dimaksud sama Kak Gilang. Iya, barisan dimana cowok cakep itu duduk.

Gue langsung antusias mengangkat tangan, “Kak, mau tanya, ini duduknya boleh bebas aja nanti?” Tanya gue yang nggak tahu dapat keberanian dari mana waktu itu.

Kak Gilang hanya mengangguk, kemudian menjawab, “Boleh, terserah aja mau duduk di mana. Barisannya juga baru ada tiga orang itu kok, masih banyak bangku kosong.” Ujarnya yang berhasil bikin gue semangat banget.

Gue dengan cepat langsung berdiri, membawa tas gue, dan berjalan cepat untuk dapat duduk di bangku kosong tepat di samping pria manis itu sebelum ada yang mendahului. Begitu gue berhasil sampai tepat di sampingnya, dia langsung menoleh.

“S-Sori, bangkunya kosong kan? Gue boleh duduk di situ nggak?” Tanya gue dengan suara yang agak gemetar.

Dia hanya menoleh dengan tatapan datar, “Ya,” balasnya singkat.

“Makasih!” Gue kemudian langsung duduk tepat di sisi kanannya, membiarkan dia tetap duduk di dekat tembok.

Setelah itu kita cuma diam. Dia nggak terlihat tertarik buat ngobrol sama gue dan gue juga masih belum menemukan topik yang tepat buat ngobrol sama dia. Kak Gilang masih sibuk menjelaskan berbagai peraturan yang harus ditaati oleh siswa-siswi baru selama masa orientasi berlangsung. Gue dengerin sih apa-apa aja yang dia bilang, tapi lagi-lagi ujung mata gue rasanya selalu menoleh ke cowok di samping gue. Dia mengeluarkan buku tulis dari tasnya, mungkin berniat mencatat beberapa peraturan yang dirasa penting. Di halaman depan buku tulis miliknya itu tertulis sebuah nama yang dapat dipastikan itu adalah nama dia.

Aksara Juni A. (Kelas 7-A)

Gue cuma membentuk mulut gue menyerupai huruf O, akhirnya merasa senang bisa mengetahui namanya. Nama yang saat itu benar-benar dapat dibaca dengan sangat indah. Gue penasaran orang tuanya dapat ide dari mana bisa kasih nama sekeren itu untuk anaknya.

“A di belakangnya apa?” Tanya gue tiba-tiba.

Dia sempat kaget, lalu menoleh, masih menatap gue datar. Kayaknya dia mikir gue cewek aneh tiba-tiba nyamperin, tiba-tiba nanya.

“Apanya?” Jawab dia pelan.

“Itu, Aksara Juni A., nah A di belakangnya itu apa?” Gue mengulang pertanyaan, kali ini lebih jelas.

“Adhinatha.”

Mata gue berbinar mendengar jawabannya. Namanya beneran bagus dari huruf awal hingga akhir!

“Oh, Oke. Nama lo bagus.” Balas gue singkat.

Sembari masih sibuk menulis, dia hanya menjawab, “Thanks.” Tapi berhasil bikin gue semakin terpana karena suaranya bagus banget! Kalem dan menyejukkan hati.

Gue yang mulai senyum-senyum nggak jelas akhirnya memutuskan untuk memperhatikan Kak Gilang aja di depan, takut kalau Aksara itu makin mengira gue cewek aneh.

“Oke, siapa yang mau jadi ketua kelas?” Tanya Kak Gilang kepada semua anak yang ada di kelas itu.

Cukup lama tidak ada respons, akhirnya Kak Gilang memutuskan untuk melakukan undian acak. Jujur gue nggak suka sistem undian acak karena selalu bikin gue gugup. Bukannya nggak mau jadi ketua kelas, tapi gue takut merasa nggak bisa pegang tanggung jawab dan takut nggak bisa menyatukan semangat teman-teman kelas kalau guenya aja nggak jago ngajak ngobrol orang.

“Oke, ini udah gue ambil satu kertas secara acak ya. Yang namanya tertulis di sini boleh angkat tangan.” Kak Gilang kembali bersuara.

Dengan perasaan gelisah, gue sibuk merapal doa agar nama gue nggak tertulis di sana. Dan ya, terkabul. Gue sempat bernapas lega, hingga...

“Aksara Juni. Siapa yang namanya Aksara?” Sambung Kak Gilang yang berhasil bikin gue membelalakkan mata dan sontak menoleh ke kiri.

Pria bernama Aksara itu sudah mengangkat tangannya tanpa beban apapun, masih dengan tatapannya yang datar, tampak tidak tertarik tapi juga tidak terlihat terpaksa.

“Oke, Aksara kamu bersedia jadi ketua kelas?” Tanya Kak Gilang memastikan.

“Siap Kak!” Jawabnya lantang yang sempat bikin gue terkejut. Tadinya gue pikir mungkin suaranya benar-benar kalem, ternyata nggak, dia punya jiwa kepemimpinan juga rupanya.

“Oke Aksara yang jadi ketua kelas ya. Sekarang wakilnya, kakak undi lagi.” Ujar Kak Gilang.

Gue yang seolah lupa seluruh doa yang udah gue sebutin tadi agar dapat terhindar dari tugas-tugas kepemimpinan macam itu akhirnya mengangkat tangan seraya berteriak cukup keras, “KAK TUNGGU!”

Sekarang semua mata tertuju ke gue.

“Ya?” Kak Gilang tampak bingung.

“S-saya mau jadi wakilnya boleh nggak Kak?” Gue mengajukan diri.

Kak Gilang tersenyum bangga, “Boleh dong, siapa nama kamu? Biar aku catet.”

“Shanine. Shanine Rembulan Poernama.” Jawab gue tegas.

“Oke Shanine, thank you ya udah ngajuin diri,” balas Kak Gilang.

Gue kembali bersandar pada sandaran kursi. Menarik napas sembari mengelus dada. Sedikit menyesal, tapi ya nasi sudah menjadi bubur, nikmatin aja, siapa tahu bisa deket sama Aksara, pikir gue.

“Nama lo juga.” Cowok di samping gue tiba-tiba bicara. “Hah? Lo ngomong sama gue?” Tanya gue memastikan. “Ya.” “Kenapa? Maaf gue nggak denger tadi,” “Nama lo.” “Kenapa?” “Bagus.”

Gue diam. Ingin menjerit sekeras-kerasnya sekarang.


“Jun!” Gue berlari cukup jauh membelah koridor yang ramai, berniat mengejar Aksara yang sudah berada cukup jauh berjalan di depan gue.

Ini urusan data anak kelas yang harus diserahkan sesegera mungkin ke Kak Gilang, tapi gue harus lebih dulu tanya tempat tanggal lahir si Ketua Kelas ini karena cuma dia yang belum gue data. Waktu istirahat gue saat itu terpakai habis hanya untuk mendata nama, tempat tanggal lahir, dan asal sekolah seluruh teman satu kelas yang menjadi tugas gue, sedangkan Aksara mendapat tugas lain yang menurut gue ya jauh lebih berat. Bikin yel-yel.

Gue masih berusaha mengejar Aksara yang tak kunjung menoleh, padahal gue sudah memanggil namanya cukup keras.

“Jun! Juni tunggu!” Gue mulai lelah berteriak, akhirnya dapat meraih lengan pria itu.

Aksara menoleh, memasang wajah penuh tanda tanya.

“Aduh, lo kok gue panggil nggak nyaut sih?” Ujar gue, masih mencoba menghirup oksigen lebih banyak.

“Lo manggil gue tadi?” Aksara tampak bingung.

“Ya, iya?”

“Nggak ada yang manggil tadi.”

“Hah? Gue jelas-jelas manggil, Jun! Jun! Gitu. Lo nggak denger?”

Alisnya bertautan sekarang, “Lo manggil gue apa tadi?”

“Juni.”

“Panggilan gue Aksa.”

Gue terdiam. Sedikit malu.

“Oh, iya. Iya maaf Jun. Eh Aksa.” Balas gue gugup.

“Ya. Kenapa manggil?”

“Itu, eh ini. Apa namanya. Itu...” Gue lupa tujuan gue manggil dia apa.

“Hm?”

“OH inget. Ini tolong isi nama, asal sekolah, sama tempat tanggal lahir,” ucap gue sembari menyerahkan secarik kertas dan pulpen yang langsung diterima olehnya.

Aksa segera menuliskan hal-hal yang gue minta tadi dengan cepat, “Nih,” ujarnya ketika merasa sudah lengkap seluruhnya.

Gue melihat kertas tersebut, kini menaruh perhatian pada tanggal lahir pria di depan gue.

“Lo lahir 6 Juni?” Tanya gue takjub. “Iya, kenapa?” “Gue juga!” Gue menjawab dengan antusias, kini sudah senyum semringah.

Dia tertawa. Senyum yang manis. Sangat manis.

“Oke nanti gue ucapin lo ultah.” Ucap Aksa dengan senyum yang masih terukir pada wajah manisnya.

Gue deg-degan sekarang, “Hum, oke, gue juga.” Jawab gue pelan.

Hari itu, gue tahu gue jatuh cinta sama pesona yang Aksa berikan sejak awal gue lihat dia di lapangan. Dan mulai hari itu juga gue selalu ajak ngobrol dia sesering yang gue bisa, nggak peduli dia risih atau nggak, pokoknya setidaknya gue bisa jadi temen ngobrol dia, ya paling-paling sahabatnya. Hingga semesta benar-benar baik, mengizinkan gue selalu sekelas sama cowok manis bernama Aksara itu.